Senin, 14 Maret 2011

perAsaan ini,,,

aq tak mengenaLnya, hanya sekedar tau...bertemu pun aq jarang,,
LaLu perasaan apa ini yang sLaLu berharap mataku dapat menangkap s0s0knya....
awaLnya memank biasa saja, bahkand tak peduLi ada atau tanpa dia.....
namun ju2r, saad ini aq benar2 merindukannya, dia yang sLaLu membangun LamunanQ, membuyarkan konsentrasiQ, dan memaksaQ berpikir keraz.. "apa kau merasakan haL yang sama?"
mezkipun aq tLah mengetahui jawabannya,,
'tidak'

Rabu, 23 Februari 2011

Kepomp0ng kUpu**

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Orang itu duduk dan mengamati dalam beberapa jam ketika kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya kupu-kupu itu telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Namun, kupu-kupu itu mempunyai tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang.

Namun semuanya tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya mohon Kekuatan ... Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon Kemakmuran ... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Saya memohon Keteguhan hati ...Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Saya memohon Cinta ... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon Kemurahan/Kebaikan hati ... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

cerita "SIAPA yang PALING JELEK???'

Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai. "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?" "Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.
Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Alloh memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.
Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Alloh, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu.
Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus".

Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Alloh.

CERPENKU

DITYA
YCizka

Ditya langsung menatapku dalam-dalam. Matanya berbinar. “Kamu udah makan, Fre?”
Aku menggeleng. Tegang menunggu lanjutan dialog selanjutnya.
“Cari makan bareng aku, yuk?! ajak Ditya, seolah lupa bahwa aku sedari tadi berjalan berdua dengannya hanya karena suatu kebetulan. Kemudian terjadi obrolan yang memang hanya sekedar basa-basi.
Aku lagsung speechless. Kakiku seolah mengambang, tak menapak tanah. Untuk sesaat aku seolah tak sadar sedang berada dimana, saking girangnya. Tak menyangka, cowok manis berbadan tegap yang beberapa hari ini mengusik pikiranku,  bersikap seakrab ini padaku.
“Awas, truk…!!! Freya, minggir!!!” Ditya menarikku ke pinggir jalan. Badanku terseret mengikuti gerakannya. Karena tak melihat situasi di sampingnya, tak sengaja kaki Ditya kesandung batu. Bruk! Ditya terjatuh dan badanku menindihnya. Tak lama kemudian truk di belakangku lewat dengan kecepatan tinggi. Aku selamat.
Kejadiannya begitu cepat. Aku tak tahu akan jadi apa aku tadi kalau saja Ditya tak reflek menarikku ke pinggir.
“Fre, kamu nggak pa-pa?” Ditya masih di bawah badanku, bertanya.
Badanku menggigil. Mataku menatapnya tanpa berkedip. Tegang. Entah karena kejadian yang nyaris merenggut nyawaku…, atau karena badanku dan badan Ditya yang sekarang tak berjarak sama sekali.
*****
Ditya segera membawaku ke sebuah tempat makan yang tak jauh dari sekolah.
“Minum dulu, Fre,” Ditya menyodorkan segelas es cappuccino kepadaku.
Aku menerima gelas yang disodorkan Ditya. Aku tersenyum. Berusaha mendinginkan kepala dan menenangkan gemuruh di dada. Setelah cukup tenang, kudekatkan mulutku ke bibir gelas dan kuseruput minuman favoritku itu.
Aku meneguk cappuccino dalam gelas itu sampai setengahnya. Aku mendongak. Kudapati mata Ditya yang sedari tadi menyorotku penuh kecemasan.
“Muka kamu masih pucat, Fre. Kamu ketakutan sekali ya, tadi?!” Ditya menyentuh pipiku. Aku merasakan kehangatan tangannya. Berharap tangan itu terus berada di sana. “Makanya kalau jalan, jangan nglamun. Nglamunin apa sih, tadi?”
“Nglamunin kamu!” jawabku, yang pastinya hanya dalam hati saja. Lalu kataku, “Makasih ya, Dit. Kamu udah nolongin aku tadi. Kalau nggak ada kamu, nggak tahu deh, udah jadi apa aku tadi.”
Ditya mengangguk. Memamerkan senyum simpatiknya. “Oh iya, kamu mau makan apa?”
“Aku menggeleng. Mana mungkin aku bisa menelan makanan, sementara Ditya duduk di hadapanku, menguliti badanku utuh-utuh dengan matanya yang teduh itu?! Menelan minuman saja tenggorokanku seakan tercekik.
*****
 Hari ini hari terakhir Ujian Semester Akhir. Setelah sebelumnya kita melaksanakan UNAS dan Ujian Praktek. Jam 11 siang aku pulang. Dan surprise… Ditya mengantarku sampai ke rumah. Dia baru pulang sesaat setelah adzan ashar dikumandangkan. Bisa dibayangkan bagaimana kelaparannya aku karena sejak kemarin sore hingga sore ini aku belum makan. Kemarin aku tak sempat memasukkan sebutir nasi pun ke dalam perutku karena sibuk mempersiapkan untuk ujian hari ini. Tapi kini protes keras dari perutku seakan sirna. Semua terbayarkan dengan kehadiran Ditya di sampingku.
Setelah mandi, aku kenakan mukena yang terlipat rapi di samping sajadah. Kudirikan shalat magrib sebagai tanda rasa syukurku atas segala kenikmatan yang telah Dia beri sepanjang hari ini, disamping karena itu adalah kewajibanku sebagai orang muslim.
Malam harinya aku tak bisa memejamkan mataku. Bayangan Ditya terus merasuki pikiranku, terus menyebar hingga hampir  ke seluruh organ di tubuhku. Betapa hangatnya kebersamaanku tadi bersamanya. Tawa terurai lepas tanpa paksaan saat kami saling bicara. Beradu cerita masa kecil yang penuh kelucuan dan kepolosan. Kami nampak begitu akrab meski belum genap seminggu aku dekat dengannya. Gambaran-gambaran itu mulai memudar. Mataku seakan berkabut dan akhirnya tak ada satupun yang dapat kulihat. Aku tertidur.
*****
Sampai di sekolah, aku dibuat kaget melihat Ditya sudah berdiri di pintu gerbang. Dia menatapku dengan matanya yang teduh. Senyumnya mengembang ke arahku. Sedang menunggukukah dia?!
“Hai, Fre. Udah sarapan belum?” Tanya Ditya padaku. Ternyata benar…, dia memang sedang menungguku.
“Belum,” jawabku pendek. Aku memang tak biasa sarapan. Bisa telat sampai sekolah kalau aku nekad makan. Untuk mandi, shalat, dan persiapan berangkat sekolah saja sudah cukup membuatku tergesa-gesa.
“Sarapan di kantin, yuk?!” ajak Ditya.
Aku terbengong, lalu berucap “Ngaco, kamu! Beberapa detik lagi bel masuk bunyi.”
Mendengar ucapanku Ditya spontan tertawa kecil. “Udah nggak ada ujian, kan?!”
“Ha? Ya ampun…. Aku lupa kalau hari ini kita udah bebas,” kataku dengan ekspresi malu dan agak salah tingkah.
Sret! Tiba-tiba Ditya meraih tanganku, menggandengku dengan fasih, seolah kami sudah biasa bergandengan. Aku diam saja. Tak menolak apalagi berontak. Aku justru menikmatinya.
Sampai di kantin, Ditya menarikkan kursi untukku. Aku duduk. Merasa tersanjung. Ditya memang sangat menghargai perempuan. Kegantengannya sangat diimbangi dengan kecerdasan otak dan batinnya. Tak heran kalu aku punya banyak saingan.
Tak menyesal aku mengagumi Ditya. Bahkan kini rasa kagum itu mulai berubah menjadi rasa sayang karena seringnya kuhabiskan waktuku bersamanya.
Semangkuk bakso terhidang di hadapan kami. Kami memang sepakat sarapan dengan menu yang sama, makanan favorit kami berdua.
“Ayo makan,” ajakku kepada Ditya.
Ditya tersenyum menatapku. Hatiku semakin meleleh melihat senyumannya.
*****
Aku tercekat ketika malam minggu tahu-tahu Ditya sudah duduk di teras rumahku. Setelah ngobrol ngetan-ngulon, sampailah kami pada pembicaraan yang sesungguhnya.
“Fre, makasih ya beberapa hari ini kamu udah mau menghabiskan waktumu bersamaku. Aku harus bisa mulai menunjukkan perasaanku selama ini sama kamu.”
“Maksud kamu?”
Ditya mangambil kedua tanganku. “Freya, sejak kita tak sengaja bertemu di pos satpam, saat kita sama-sama telat enam bulan  yang lalu, aku mulai sering merasakan hal yang sebelumnya tak pernah kurasakan begitu kuat. Aku seneng banget saat aku bisa berjalan berdua denganmu waktu itu, meski itu juga hanya sebuah keb etulan.”
Ditya menghentikan ucapannya. Terlihat sedang berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk kembali berucap. Aku hanya diam. Menyadari keadaannya dan siap mendengar kalimat selanjutnya.
“Aku cinta sama kamu, Fre. Kedekatan kita akhir-akhir ini semakin meyakinkan perasaanku ini. Aku tak ingin kebersamaan kita berakhir. Aku ingin selamanya kamu menemaniku.”
Oh, my God... Oh, my god… ini benar-benar sebuah anugerah. Ditya menyatakan cintanya padaku. Aku nyaris tak mempercayai pendengaranku sendiri. Semoga ini bukan mimpi.
“Apa jawaban kamu untuk pernyataanku tadi?”
Aku mengangguk.
*****
 Awalnya aku tak pernah sekalipun berpikir untuk memiliki Ditya. Hingga usahanya mendekatiku menumbuhkan benih-benih cinta. Dan kini aku semakin menyadari dan merasakan bahwa ternyata aku sangat membutuhannya.
Sejak kita jadian, kami semakin dekat. Sering berbagi cerita. Sejak itu juga, aku baru tahu kalau Ditya adalah pribadi yang usil banget. Jika sedang asyik menikmati celotehku yang ramai, dia bilang bibirku kayak karet…, ngomel melulu. Ia tidak akan berhenti mengusiliku sampai mendapati wajahku saat marah dan kesal. Dan pada akhirnya akan ku layangkan pukulan-pukulan kecil ke arah bahunya. Namun, tak bisa kupungkiri kalau justru keusilannyalah yang selalu membuatku kangen.
*****
Setiap hari kami pulang sekolah bersama menyusuri sepanjang jalanan kota yang begitu ramai layaknya hari ini. Sepanjang perjalanan aku merasakan getarannya. Kami belok ke sebuah tempat di mana di situ kami sering berbagi cerita.
Ditya menautkan tangannya ke tanganku. Jemarinya mengalirkan kehangatan dan kelembutan hatinya. “Aku mau kuliah di Surabaya,” kata Ditya membuka percakapan.
“Aku bakal nungguin kamu, Dit.”
Ditya tersenyum. Matanya sedih. Perpisahan di depan mata.
“Freya, aku sayang banget sama kamu,” ujarnya sambil mengelus poniku.
“Romantis banget. Nggak nyangka kamu bisa romantis gini ke aku,” kilahku dengan wajah hangat.
“Nggak ada yang nggak mungkin ku lakuin untuk cewek yang paling ku sayangi. Di hatiku nggak pernah ada cewek lain selain kamu! Sebenarnya aku tak pernah mau berpisah denganmu.”
“Berlebihan. Aku tidak mau masuk perangkap dengan mempercayai kata-katamu. Toh kamu nggak pernah bersikap kayak gini setelah kita jadian. Kamu lebih sering mengusiliku sampai membuatku kesal!” sifat usilku terusik. Aku ingin menggodainya.
Ditya tertawa. Tapi kelihatannya tidak berminat meladeni ulahku yang sengaja mengundang perdebatan. “Jangan pancing aku…! Aku udah janji nggak akan membuatmu kesal saat ini!”
“Ha? Hanya untuk saat ini?” aku mengernyitkan dahiku tanda protes.
“Iya! Hanya untuk saat ini!” Ditya menjawab tegas, seakan tak melihat tampangku yang mulai cemberut.
Belum sempat kujawab pernyataannya dengan sebuah pukulan seperti yang biasa kulakukan saat aku kesal padanya, ia telah merengkuhku ke dalam pelukannya. Dan aku merasakan, betapa indahnya cinta kami. “Aku akan selalu merindukanmu!”
“Percayalah, aku akan kembali untuk mengambil separuh hatiku yang telah kau bawa,” Ditya semakin erat memelukku. Lebih tepatnya mengunci tanganku. Rupanya ia telah menemukan cara bagaimana meredakan kekesalanku.Y

cerita "TUKANG KAYU dan RUMAHNYA"

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.' Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab.Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.


cerita "SEGENGGAM GARAM dan TELAGA"

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam.
----------

Sabili No.24 Th.IX

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya," ujar Pak Tua itu.

"Pahit...., pahit sekali," jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.

"Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!" ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?"

"Segar!" sahut anak muda itu.

"Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

"Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.

TAK SESULIT yang ANDA BAYANGKAN

Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik.
Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu. Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawah
batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya dengan mudah dan cepat. 

Renungan:                               
Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu, persoalan itu mudah sekali diatasi. Maka, atasi persoalan anda sekarang. Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum tentu sesulit yang anda bayangkan.